Menanti Akhir Oposisi ?

instana-negara-republik-indonesia-jakarta-menanti-aakhir-oposisi-01

Menanti Akhir Oposisi ?

Landscape politik menjelang pelantikan Presiden terus memanas. Kontroversi UU KPK dan 4 RUU yang dibahas akhir periode DPR membuat gaduh politik nasional. Demo mahasiswa dan anak – anak SMA sampai jatuh 9 korban nyawa membuktikan bahwa ada pergerakan yang dinamis di jantung rakyat merespon sikap elite politik nasional.

Belum usai kasus kematian di demo mahasiswa, menyusul rusuh di Papua dan Wamena yang mengundang keprihatinan mendalam bagi bangsa Indonesia, kepemimpinan Jokowi sedang diuji.

Tekanan partai koalisi nyata adanya, pidato Megawati di Konggres Bali untuk jatah mentri yang paling banyak, tragedi Mega – Paloh di DPR RI yang tidak bersalaman, dan ketidakjelasan sikap “oposisi” membuat ancaman serius demokrasi kita.

Bandul demokrasi bisa tidak berayun ke arah keseimbangan jika semua masuk dalam pemerintahan.

Gerindra yang diawal nyaring bersuara sekarang sayup – sayup mulai redup diterpa  kabar 3 kadernya masuk kabinet. PKS yang keras bersuara oposisi nampaknya akan “sendirian” tanpa teman. Mungkinkah oposisi akan mati suri? Efektifkah pemerintahan tanpa oposisi?

Sikap Tegas Jokowi

Demokrasi dan kepemimpinan Jokowi sedang diuji pada periode ke 2 ini. Problem pelemahan ekonomi global serta pembentukan desain kekuasaan diantara partai koalisi masih keras persaingannya. Jatah mentri parpol koalisi masih saling ngotot ditambah merapatnya Demokrat dan Gerindra.

Harusnya Jokowi bersikap tegas bahwa kabinet di isi oleh parpol koalisi dan profesional, modal kursi di parlemen cukup kuat untuk menjalankan agenda pemerintah. Jangan buka peluang buat parpol non koalisi.

Dinamika di parlemen hal yang wajar, toh koalisi Jokowi cukup untuk menang dalam berbagai pengambilan keputusan. Ketua DPR dan MPR bersama Jokowi.

Dengan sikap tegas Jokowi maka Gerindra, PKS, Demokrat, PAN akan ambil jarak dan berkonsolidasi menjadi oposan yang baik untuk demokrasi Indonesia ke depan. Sikap mengayun Jokowi membuat peluang demokrasi akan masuk ke ruang tanpa kontrol kebijakan, ini menurunkan kualitas demokrasi kita yang saat ini dikatakan pada titik terendah.

Siapakah yang Oposisi?

Rakyat tinggal menghitung hari. Pelantikan jokowi sudah pasti tanggal 20 Oktober, susunan kabinet mungkin sudah 90% final. Terus siapa yang kira – kira menjadi opisisi? Melihat gelagat politik dan sikap elite parpol pro Prabowo di pileg 2019 rakyat tidak banyak harapan.

Demokrat bersama Jokowi, PAN masih belum jelas tapi kemungkinan besar bersama Jokowi. Tragedi 2014 membuktikan PAN bergabung dengan Jokowi, Gerindra nampaknya akan bersama Jokowi setelah ada kepastian kadernya masuk kabinet. Mungkin tanggal 17 an menjadi penentunya, walaupun bisa ditebak Jokowi akan merangkul Prabowo.

Tinggal PKS yang nampaknya sendirian. Jika benar oposisi menyisakan PKS maka ini menjadi alrm serius bagi demokrasi ke depan. Kekuatan PKS belum efektif menjadi bandul bagi Jokowi walaupun bisa jadi efektif memberikan pendewasaan dalam demokrasi.

Potensi hilangnya cek end balance sangat kuat, rakyat akan menjadi penonton. Kekuatan media serta NGO yang selama ini diharapkan menjadi mitra rakyat nyaris hilang karena kepentingan praktis demi “kehidupan” mereka ditengah resesi ekonomi. Selamat tinggal demokrasi..

Riyono
Pegiat Komunitas Wedangjahe

0

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *